Artikel

Teknologi “Kemasan Pintar” untuk memenuhi kebutuhan konsumen atas keamanan dan kualitas pangan.

Teknologi “Kemasan Pintar” untuk memenuhi kebutuhan konsumen atas keamanan dan kualitas pangan.

Penulis: Bunda Amalia - Balai Besar Kimia dan Kemasan

          Di era yang serba canggih saat ini, Teknologi Pengemasan menjadi salah satu hal yang sangat penting dan menarik untuk di kembangkan. Kesadaran konsumen atas keamanan dan kualitas pangan terus meningkat. Kita sering sekali melihat pangan-pangan yang beredar di pasaran sudah melewati tanggal kadaluarasa. Bahkan banyak sekali oknum yang melakukan manipulasi pada tanggal kadaluarsa produk tersebut, dengan alasan agar produk yang mereka jual tetap laku di pasaran. Hal ini sangatlah merugikan kita sebagai konsumen. Produk yang sudah melewati tanggal kadalurasa biasanya sudah terjadi kerusakan di dalam produk tersebut, dan apabila produk tersebut dikonsumsi oleh kita maka dapat menimbulkan beberapa penyakit seperti gangguan pencernaan.


         Tiga fungsi pokok dari kemasan pangan yaitu sebagai pemyimpanan, pengawet dan perlindungan masih dibutuhkan untuk menjaga kualitas dan penanganan produk menjadi lebih baik. Selain itu juga  tujuan inti dari sebuah sistem Pengemasan adalah untuk mecegah, meminimalisasi atau memperlambat terjadinya perubahan dari penampakan, rasa, bau dan tektur dari produk yang dikemas [1].  Saat ini sudah dikembangkan kemasan yang dapat mendeteksi kerusakan yang terjadi pada produk makanan, terutama makanan segar yang memang mudah sekali terjadi kerusakan. Teknologi yang di kembangkan adalah “Kemasan Pintar” (gambar 1) . Keamanan dan kualitas dari pangan segar harus diperhatikan, dimana mikroba menjadi penyebab utama kerusakan. Teknologi kemasan pintar yang kini sedang dikembangakan merupakan salah satu indikator yang apa memberikan informasi terkait kualitas pangan tersebut secara langsung [2]. Pada artikel ini, kita akan berfokus pada aspek konsep kemasan pintar yang dapat memberikan informasi pada kulitas mikroba dan keamanan produk pangan. Indikator yang biasa digunakan adalah indikator kebocoran,  indikator mikoba atau senyawa pathogen  dan  indikator kesegaran.

a. Indikator Kebocoran (CO2, O2)


Indikator kebocoran memberikan informasi terkait integritas kemasan selama proses rantai distribusi. Indikator ini dapat berupa label, lapisan yang di print, tablet, atau dapat berupa laminasi diatas polimer film. Indikator kebocoran digunakan pada kemasan MAP (Modified Atmosphere Packaging) yang merupakan salah satu jenis dari kemasan aktif.   Dalam hal ini, MAP terdiri dari konsentrasi O2 yang lebih rendah dan konsentrasi CO2 yang tinggi. Kebocoran dalam kemasan MAP berarti peningkatan konsentrasi O2 yang besar dan penurunan konsentrasi CO2, yang pada akhirnya akan memungkinkan pertumbuhan mikroba aerobik berlangsung.  Indikator level gas internal dimasukkan ke dalam kemasan untuk memantau bagian dalam atmosfer. Tipe dari indikator oksigen ini biasanya terdiri dari indiktor redoks (seperti methylene blue), senyawa alkalin (seperti sodium hidroksida, kalium hidroksida) dan senyawa reduktor (seperti gula reduktor)


b. Sensor untuk mikroba atau senyawa pathogen


Banyak konsep dikembangkan untuk mendeteksi kontaminasi dalam makanan. Salah satunya adalah indikator warna berdasarkan reaksi yang dihasilkan oleh aktifitas mikroba. Indikator warna dapat berupa perubahan warna dari substrat choromogenic dari enzyme yang dihasilkan oleh mikroba tersebut. Selain itu ada juga metode transduction electrochemical, yaitu sistem biosensor berbasis optik untuk medeteksi mikroba penyebab kontaminan dalam makanan seperti Staphylococcal enterotoxin A dan B, Salmonella thyphimurium, dan E.coli.   Biosensor seperti polimer kondutor juga dapat digunakan untuk mendeteksi gas yang dikeluarkan selama proses metabolism mikroba. Bisensor dibuat dengan memasukan nanopartikel polimer konduktor ke dalam matrik insulator, dimana akan terjadi perubahan yang akan berkorelasi dengan jumlah gas yang dikeluarkan.


c. Indikator Kesegaran


Ide dari indikator kesegaran ini adalah bagaimana memonitor kulitas dari pangan yang dikemas dengan mereaksikan sesuatu dengan senyawa lain yang ditimbulkan produk sebagai hasil pertumbuhan dan aktivitas mikroba. Hampir semua konsep yang ada adalah berdasarkan perubahan warna yang terjadi pada indikator yang dikarenakan aktivitas mikroba selama proses kerusakan.


          Indikator kesegaran didisain untuk merespon bahan kimia yang dikeluarkan pada saat proses kerusakan pangan, biasanya proses oksidasi berpengaruh pada bakteri, ragi dan jamur dimana akan memecah karbohidrat, protein, lemak dalam pangan menjadi molekul yang berberat molekul rendah seperti CO2, asam laktat, aldehid, alcohol (etanol), golongan sulfida, molekul nitrogen seperti ammonia dan ammine. Dengan mengintegrasikan indikator ke dalam kemasan makanan, maka indikator kesegaran ini dapat direalisasikan sebagai tag indikator yang akan terus berubah seiring dengan keberadaan senyawa-senyawa tersebut.

REFERENSI
[1]    A. Pavelková, “INTELLIGENT PACKAGING AS DEVICE FOR MONITORING OF RISK FACTORS IN FOOD,” vol. 2, no. 1, pp. 282–292, 2012.
[2]    “Active and smart packaging for meeting consumer demands for quality and safety,” no. September 2014, pp. 37–41, 2009.


Share: